Kisah Hesti Wanita Bercadar Rawat 70 Anjing Liar hingga Berujung Polemik

 

Jakarta - Polemik Hesti Sutrisno (37) sang wanita bercadar yang memelihara puluhan anjing di rumahnya masih berlanjut. Bagaimana kisah Hesti mulai merawat anjing hingga jadi polemik seperti sekarang ini?

Hesti mulai merawat anjing sekitar 2015. Pada 2018, anjing yang dipelihara Hesti jumlahnya masih belasan ekor. Pada 2018 itu, Hesti juga pernah dikomplain oleh warga Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), karena memelihara anjing.

Hingga akhirnya kesepakatan pun telah dibuat dan Hesti mengurangi jumlah anjingnya dari 11 ekor menjadi 3 ekor. Kesepakatan itu dibuat pada Selasa (3/4/2018), sekitar pukul 22.30 WIB, setelah sejumlah warga mendatangi rumah Hesti. Kesepakatan itu dibuat dan disaksikan langsung ketua RT setempat dan perwakilan warga.

Selesai pada 2018, pada 2021 ini, warga kembali mempermasalahkan anjing peliharaan Hesti yang dianggap meresahkan oleh warga. Hesti disebut menampung 70 ekor anjing yang jauh dari permukiman warga. Namun warga merasa terganggu karena menganggap anjing yang ditampung berisik dan merugikan.

Hesti Sutrisno, wanita bercadar yang tampung puluhan anjing liar (Sachril Agustin Berutu/detikcom).Hesti Sutrisno, wanita bercadar yang menampung puluhan anjing liar (Sachril Agustin Berutu/detikcom).

Dari data yang didapat Polsek Ciampea, Hesti menampung 73 ekor anjing liar. Polisi kemudian kembali melakukan mediasi antara warga dan Hesti.

Dalam mediasi itu, Hesti menyepakati akan merelokasi 47 anjing yang dia pelihara. Mediasi antara Hesti dan warga digelar pada 12 Maret 2021.

"Sudah dilakukan (mediasi antara warga dan Hesti) tanggal 12 Maret kemarin, hari Jumat, di (kantor) Kecamatan Tenjolaya. Ya kalau (mediasi) ini sudah mulai ada titik terang bahwa Bu Hesti itu mau mengeluarkan anjingnya," sebut Kapolsek Ciampea Kompol Beben Susanto saat dihubungi, Selasa (16/3).

Beben menerangkan relokasi puluhan anjing ini merupakan hasil dari mediasi kedua. Dia mengatakan relokasi akan dilakukan secara bertahap.

"Cuma secara bertahap (relokasi), karena harus ditampung juga, dikeluarinnya ke mana (40 anjing Hesti), dan (untuk relokasi ini) sudah koordinasi dengan UPT Peternakan bahwa UPT berkoordinasi dengan komunitas-komunitas penampung anjing barangkali bersedia untuk menampung, ya," ungkapnya.

Di sisi lain, Hesti mengungkapkan alasan dia enggan merelokasi semua anjing peliharaannya karena takut anjingnya itu tidak diurus atau bahkan takut dimakan oleh manusia. Hesti juga menambahkan saat ini ada banyak orang yang akan mengambil kesempatan untuk mengambil anjingnya.

"Nggak, untuk saat ini nggak (akan memberikan anjingnya untuk diadopsi), dalam keadaan ini. Karena banyak pihak yang ingin, 'Bu Hesti tahu nggak ada yang mau mengadopsi. Jangan dikasih nih atas nama ini, dia mau dimakan anjing Bu Hesti', ya sudah pasti," kata Hesti saat ditemui di Hesti Green House, Jalan Tapos II, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Kamis (18/3).

Menurut Hesti, warga di Kampung Kelapa Doyong tidak mempermasalahkan dirinya karena merawat 70 anjing. Namun, katanya, satu warga yang tidak menyukai dirinya ini memprovokasi warga luar Kampung Kelapa Doyong agar anjing-anjingnya dipindahkan.

"Sebenarnya bukan warga (yang komplain). (Ada) satu orang provokator, cuma tidak ada dukungan dari warga sekitar jadi dia nyari warga luar, ormas luar, gitu. Nah ini RW baru, sedangkan provokator ini mantan preman ibaratnya, katanya, mantan preman iniin (provokasi) yang baru menjabat (ketua) RW. Mantan preman ini yang sebenarnya nggak suka (sama saya)," kata Hesti.

"Ya, entah saya yang kurang upeti, entah saya kurang sajen, ya namanya saya orang sini, gitu kan, saya nggak ini juga kan kayak gitu. Terus akhirnya ada RW yang baru lama menjabat RW, belum lama, belum ada setahun, (di)-provokatorin-lah (ketua RW oleh) yang nggak suka sama saya, diajak nih ceritanya orang ini untuk ikutan tidak suka. Nah RW ini kenal ormas di luar karena dia (di) ormas tersebut anak buahnya. Jadilah ditarik ormas tersebut untuk iniin saya. Padahal nggak ada masalah apa-apa," imbuhnya.

Salah seorang warga RT 3/6, Kampung Kepala Doyong, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Nunung Nurhasanah (37), mengaku merasa terganggu oleh suara anjing-anjing Hesti. Nunung mengatakan suara anjing-anjing ini sering kali terdengar sampai ke rumahnya.

"Lagian kan mengganggu karena banyaknya anjing, kan suka ada, banyak suaranya guguk, gitu. Kadang pagi sampai sore (ada suara anjing). Kadang sore, pagi gitu, (suaranya) dua kali (terdengar), kadang tiga kali. Kalau makan doang kalau kedengarannya, kalau nggak makan sih, nggak (ada suara anjing)," kata Nunung.

Nunung mengaku tidak setuju dengan keberadaan anjing-anjing yang ditampung Hesti ini. Dia menilai anjing itu haram dipelihara bagi umat Islam.

"Ya dari saya sih nggak setuju ya, gimana kan kalau kita agama Islam ya, tidak diperbolehkan adanya anjing gitu. Tapi nggak banyak gitu nggak boleh," ujarnya.

"Iya, tidak baik, nggak boleh, itu haram ya, tidak boleh," tambahnya.



Sementara itu, Ketua RT 2/6, Gunung Mulia, Tenjolaya, Wahyudin menambahkan warga di wilayahnya tidak mempermasalahkan anjing-anjing Hesti. Wahyudin mengatakan 70 anjing wanita bercadar yang ditampung di Hesti Green House berdiri di wilayahnya, yakni RT 2.

Dia menyebut warga yang tidak senang dengan keberadaan anjing Hesti adalah orang-orang dari luar wilayahnya.

"Ya selama ini, saya kan harus profesional, ya. Kalau semisal warga saya ada laporan ngadu sama saya merasa terganggu, mungkin saya juga akan laporan ke desa. Selama ini nggak ada laporan dari warga saya. Nggak ada laporan merasa keberatan ataupun berisik, nggak ada," ucap Wahyudin.

"(Mungkin yang terganggu warga di) wilayah lain. Kalau wilayah pribadi saya, warga saya nggak ada, biasa saja. Mungkin saya nggak tahu, tapi kan kita harus ada laporan datang ke saya gitu baru saya ada tindakan," tambahnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel